Menyatu dengan Alam dan Kehidupan Desa, Hari Kedua VO SMAS Islam Makassar Athirah Sarat Pembelajaran Nyata
Makassar - Memasuki hari kedua pelaksanaan Village Observation (VO) Part XIX, Selasa, 28 April 2026, murid kelas X SMAS Islam Athirah Makassar mulai menjalani rangkaian kegiatan yang lebih mendalam dan menyatu dengan kehidupan masyarakat di Lingkungan Bontote’ne, Kelurahan Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa.
Kegiatan diawali sejak dini hari dengan shalat Subuh berjamaah, dzikir pagi, dan tadarus Al-Qur’an. Suasana sejuk khas pedesaan memberikan pengalaman spiritual yang berbeda bagi siswa dalam memulai hari dengan ibadah. Setelah beribadah, murid mengikuti kegiatan tadabbur alam, berjalan menyusuri lingkungan sekitar sambil mengamati keindahan alam serta merefleksikan kebesaran ciptaan Allah. Kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi sekaligus pembelajaran kontekstual di luar kelas.
Memasuki agenda utama, murid mengikuti kegiatan “With My Family”, yang menjadi inti pengalaman hari kedua. Dalam kegiatan ini, siswa benar-benar terlibat dalam aktivitas keseharian masyarakat desa, mulai dari berkebun, turun ke sawah, bertani, membantu mengajar anak-anak, hingga mengangkut pasir bersama orang tua angkat mereka.
Pengalaman nyata yang dirasakan murid memberikan kesan mendalam bagi mereka. Salah satu murid peserta VO, Zahra mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membuka sudut pandang baru tentang kehidupan.
“Saya baru merasakan langsung bagaimana bekerja di kebun. Ternyata tidak mudah, butuh tenaga dan kesabaran. Bahkan tadi kami sebelum berkebun harus melewati jalan yang menanjak untuk sampai. Dari situ saya belajar menghargai kerja keras dan merasa lebih bersyukur,” ujar Zahra.
Murid lainnya juga mengaku mendapatkan pengalaman berharga saat berinteraksi dengan masyarakat, khususnya dalam kegiatan mengajar anak-anak di desa.
“Saat mengajar anak-anak di sini, saya merasa belajar banyak tentang kesabaran dan cara berkomunikasi. Mereka sangat antusias, dan itu membuat saya lebih semangat untuk berbagi,” tutur Almirah.
Sementara itu, salah satu warga yang menjadi orang tua angkat selama kegiatan berlangsung menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran murid.
“Anak-anak dari Athirah ini cepat beradaptasi. Mereka mau belajar, mau membantu di kebun dan sawah, bahkan tidak segan ikut bekerja bersama kami. Kami senang karena mereka tidak hanya datang melihat, tetapi benar-benar ikut merasakan kehidupan di sini,” ungkapnya.
Setelah kegiatan tersebut, murid melanjutkan berbagai aktivitas lain, seperti memasak, mencuci, dan membersihkan diri. Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengembangan diri melalui berbagai pelatihan seperti seni, bahasa Inggris, LBB, dan tahsin Al-Qur’an. Kemudian, malam harinya kegiatan hari kedua ditutup dengan Sinema Gathering, yakni menonton film edukasi bersama warga desa sebagai sarana refleksi yang ringan namun bermakna.
Rangkaian kegiatan hari kedua ini menunjukkan bahwa Village Observation merupakan program yang memberi pengalaman pembelajaran yang utuh. Murid tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi juga belajar tentang diri mereka sendiri, tentang kerja keras, empati, kemandirian, dan rasa syukur.

